Belajar Otodidak, Harmoni dari Jambi, Perjalanan Musik Moses Juneri Manihuruk dan Ezer Twopama Manihuruk

  
BERITAKU - Musik bukan sekadar hobi bagi Moses Juneri Manihuruk dan Ezer Twopama Manihuruk. Ia adalah napas, perjalanan, dan panggilan hati yang tumbuh sejak usia balita. Tanpa pendidikan formal di awal perjalanan mereka, keduanya memilih jalur otodidak, belajar dari ketekunan, pengalaman panggung, dan jam terbang yang terus ditempa dari waktu ke waktu.

Sejak kecil, bunyi gitar dan dentuman bass bukanlah suara asing di rumah mereka. Dari ruang sederhana itulah kecintaan terhadap musik mulai bersemi. Moses menekuni gitar dengan kesabaran, membangun teknik dan karakter permainan yang matang. 

Petikan dan riff yang ia mainkan berkembang dari sekadar eksplorasi menjadi ekspresi musikal yang penuh rasa.

Sementara itu, sang adik, Ezer Twopama Manihuruk, menemukan jiwanya pada bass. Ia memahami bahwa bass bukan hanya pelengkap, melainkan fondasi yang menghidupkan harmoni. 

Dengan groove yang kuat dan konsistensi ritme, Ezer tumbuh menjadi bassist muda berbakat yang mampu mengikat keseluruhan warna musik dalam satu kesatuan yang solid.

Dari Festival ke Pelayanan

Perjalanan mereka tidak berhenti di ruang latihan. Moses dan Ezer mulai tampil di berbagai festival band di Jambi. Pengalaman panggung membentuk mental, kepercayaan diri, dan profesionalisme mereka. Tak jarang, mereka membawa pulang prestasi sebagai bukti kerja keras dan dedikasi.

Kini, Moses Juneri Manihuruk yang lahir di Jambi 16 Juni 2007, yang telah menempuh pendidikan di bangku kuliah Universitas Jambi, tetap aktif bermusik. Ia terus mengikuti festival sekaligus melayani dalam kegiatan gereja. Baginya, musik bukan hanya tentang kompetisi, tetapi juga tentang memberi makna.

Di sisi lain, Ezer Twopama Manihuruk yang lahir di Jambi, 16 Januari 2010, yang kini duduk dibangku Kelas X SMKN 2 Kota Jambi, semakin dikenal sebagai bassist muda berbakat di Jambi. Ia kerap diundang untuk melayani di berbagai gereja dan tampil dalam festival band. Permainannya yang matang di usia muda menunjukkan bahwa bakat yang diasah dengan disiplin akan menghasilkan kualitas yang tak diragukan.

Warisan yang Mengalir dalam Darah

Kecintaan terhadap musik dalam keluarga ini bukanlah kebetulan. Darah seni itu mengalir dari Bapa Doli mereka, mendiang St. Berlin Manihuruk (TKG), yang menjadi akar inspirasi sekaligus teladan. Juga dari Tongah mereja JayEksentrik Saragih di Bandung. 

Warisan itu bukan hanya soal kemampuan bermusik, tetapi juga nilai ketekunan, kesetiaan dalam pelayanan, dan semangat untuk terus belajar.

Perjalanan Moses dan Ezer membuktikan bahwa bakat yang dipadukan dengan kerja keras akan menemukan jalannya sendiri. Musik telah menjadi ruang bagi mereka untuk bertumbuh, melayani, berprestasi, dan membangun masa depan.

Di tengah gemerlap panggung festival dan kesederhanaan pelayanan gereja, keduanya terus melangkah, menjaga harmoni antara talenta dan karakter. Semoga perjalanan ini bukan hanya menjadi kisah inspiratif, tetapi juga menjadi berkat bagi banyak orang, serta fondasi kuat bagi pendidikan dan masa depan mereka.

Karena pada akhirnya, musik bukan hanya tentang bunyi. Ia adalah cerita tentang hati yang setia pada panggilannya. Tetaplah berkarya dengan talenta yang dimiliki, untuk pelayanan dan penyemangat pencapaian pendidikannya. Semoga. (AsenkLeeSaragihManihuruk)  



BERITA LAINNYA

Posting Komentar

0 Komentar