Halaman

Rabu, 30 Mei 2018

Sejak Ditetapkan Jadi KWST, Komplek Candi Muarojambi Tampak Kumuh

Bupati Muarojambi dan Dinas Parawisata Harus “Dijewer”
Salah satu Pondok di Komplek Candi Muarojambi yang reot dan tidak dirawat lagi. Foto diabadikan Selasa 29 Mei 2018. Foto Asenk Lee Saragih.
BERITAKU,  Muarojambi-Sejak Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) mencanangkan Situs Candi Muarojambi sebagai Kawasan Wisata Sejarah Terpadu (KWST) pada Kamis 22 September 2011 lalu, kondisi kawasan komplek Candi Muarojambi belum tertata dengan baik. Komplek percandian tampak kumuh dan kios-kios pedagang  tidak tertata dengan baik. Bahkan jalan seputaran kawasan tidak terawatt dan sudah hancur. 

Dari penelusuran Jambipos Online, Selasa (29/5/2018), jalan sari Jembatan Batanghari II menuju pintu gerbang komplek Candi Muarojambi sudah bagus dan dilakukan pelebaran. Namun saat memasuki kawasan percandian, tampak suasana kumuh. 

Bahkan jalan setapak menuju komplek percandian, kini sudah hancur, meski sudah ada sebagian dalam perbaikan. Pencanangan KWST yang dilakukan Presiden SBY dengan penandatanganan prasasti KWST di kompleks Candi Muarojambi, Kamis (22/9/2011) tampaknya tak berdampak maju bagi pengelolaan Situs Candi Muarojambi.

 (Baca: Perayaan Waisak 2018)
Keberadaan kios-kios pedangan yang tidak tertata dengan baik, juga menyebabkan kawasan komplek Percandian Muarojambi semakin kumuh. 

“Kami sudah lama mengusulkan agar dibangun kis berjualan yang rapid an tertata dengan baik. Sehingga kami juga nyaman untuk berjualan di komplek ini. Tapi sudah sejak 2011, saat SBY dating ke sini, tak ada pembangunan sarana tempat berjualan. Seluruh kios-kios berjualan yang ada di komplek percandian ini dibangun oleh maisng-masing pedagang,” ujar Salmah, seorang pedangan di Komplek Percandian Muarojambi saat bincang-bincang dengan Jambipos Online, Selasa (29/5/2018).

Menurut Salmah, keberadaan kios miliknya yang percis didepan komplek Candi Gumpung Komplek Candi Muarojambi, Desa Muarojambi, Kecamatan Maro Sebo, Kabupaten Muarojambi itu, selalu was-was akan ditertibkan. 

“Hari ini juga kami was-was ditertibkan petugas karena ada acara Perayaan Waisak se Sumatera di sini. Untung kami tidak ditertibkan dan dibolehkan berjualan di sini. Kami juga berharap agar instansi terkait mau membangun kios berjualan yang tertata dan kami siap bayar kontribusi untuk pemerintah,” ujar Salmah. 

Menurut Salmah, walau kondisi komplek Candi Muarojambi masih tampak kumuh, jumlah kunjungan ke Candi Muarojambi terjadi peningkatan, khususnya saat libur sekolah. Bahkan setiap hari libur jumlah pengunjung satu hari bisa berkisar hingga 250 orang. “Namun saat Bulan Puasa ini, pengunjung sepi hanya rata-rata sekitar 25 orang setiap harinya,” katanya. 

Wisata Sepeda

Jumlah wisatawan pengunjung Candi Muarojambi pernah mencatat hingga 6.000 perbulan, itu antara medio 2011 hingga 2012. Pemandu kawasan wisata Candi Muarojambi, Muhammad Havis alias Ahokmengatakan, meski masih didominasi wisatawan lokal, jumlah pengunjung di situs percandian terluas di Asia Tenggara itu terus mengalami peningkatan dari tahun ke tahun.

“Mungkin ini disebabkan maraknya pemberitaan tentang Candi Muarojambi ini sehingga wilayah ini makin dikenal publik dan banyak yang ingin mengunjunginya,”katanya.

Meningkatnya jumlah kunjungan wisata ke Candi Muarojambi sangat berdampak langsung bagi kesejahteraan masyarakat setempat, khususnya bagi warga yang banyak membuka usaha di dalam kawasan candi itu.


Perayaan Waisak 2562 Buddha Earth (BE) Se Sumatera 2018 di Candi Gumpung Komplek Candi Muarojambi, Desa Muarojambi, Kecamatan Maro Sebo, Kabupaten Muarojambi, Selasa (29/5/2018).  Foto Asenk Lee Saragih
Salah satunya adalah usaha sewa sepeda. Di dalam kawasan itu terdapat sekurangnya 15 Kepala Keluarga(KK) menyewakan jasa sepeda bagi pengunjung yang ingin mengelilingi kawasan situs percandian seluas kurang lebih 17 kilometer persegi itu. Ada juga sejumlah Becak yang dapat disewa untuk berkeliling candi.


Tarif sewa sepeda Rp10.000 sepuasnya. Sedangkan jumlah sepeda mencapai ratusan unit. Pendapatan rata rata perbulan bidang usaha ini bisa mencapai Rp3 juta.

Kemudian banyaknya pengunjung juga dimanfaatkan warga untuk berjualan makanan maupun sewa tikar dan karpet untuk berteduh menikmati sejuknya komplek candi yang banyak ditemukan pohon-pohon alami yang usianya sudah puluhan tahun.

Pengunjung berharap Pemerintah Provinsi Jambi maupun Kabupaten Muarojambi lebih memperhatikan upaya pelestarian Candi Muarojambi. Salah satunya adalah dengan menerbitkan peraturan khusus terkait penetapan kawasan Candi Muarojambi.

Di kawasan hutan belukar sekitar 40 kilometer dari Kota Jambi terdapat sederet situs kepurbakalaan dengan areal sangat luas, yakni mencapai 12 kilometer persegi atau terluas diseluruh situs purbakala yang ada di negeri ini.

Situs Candi Muarojambi

Berbagai Candi di areal inilah dijumpai sedikitnya 82 candi berbagai ukuran. Semua candi kini terawat dengan rapi dibawah pengawasan Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala yang beralamat di Kota Jambi.

Situs ini membentang dari barat ke timur 7,5 kilometer dari tepian Sungai Batanghari, dapat ditempuh dalam waktu 45 menit dari Kota Jambi.

Dulunya tempat ini belum banyak dikenal orang kecuali penduduk setempat. Baru tahun 1820 secara terbatas situs ini mulai terungkap setelah kedatangan S.C Crooke, seorang perwira Inggris, ketika dalam tugasnya mengunjungi daerah pedalaman Batanghari.

Kemudian dilanjutkan seorang sarjana Belanda, bernama F.M Schnitger dalam ekspedisi kepurbakalaan di Wilayah Sumatera tahun 1935 -1936. Sejak itu pula situs ini mulai terkenal. Berawal dari itulah, maka sejak tahun 1976 hingga kini situs ini mulai secara serius dilakukan penelitian dan preservasi arkeologi.

Di dalam situs tidak hanya terdapat beberapa buah Candi, tetapi juga menyimpan berbagai artefak kuno,seperti arca, keramik, manik-manik, mata uang kuno serta berbagai jenis peninggalan lainnya.

Terdapat delapan kompleks percandian , kolam kuno bagi penduduk setempat disebut kolam tanggorajo serta diperkirakan lebih dari 60 buah menapo atau gundukan tanah reruntuhan sisa bangunan kuno.

Dijumpai juga sedikitnya enam kanal atau parit-parit kuno buatan manusia masa lalu, diberinama Parit Sekapung, Johor dan Melayu. Dalam kawasan candi ini diduga masih banyak candi atau benda lainnya yang belum terkelola, akibat keterbatasan tenaga dan kondisi geografis kawasan itu sebagian hutan belukar, sehingga sulit untuk dikerjakan. (JP-Asenk Lee)
Keberadaan Kios-Kios Pedagang di Komplek Candi Muarojambi, Selasa 29 Mei 2018. Foto Asenk Lee Saragih.

Keberadaan Kios-Kios Pedagang di Komplek Candi Muarojambi, Selasa 29 Mei 2018. Foto Asenk Lee Saragih.


Keberadaan Kios-Kios Pedagang di Komplek Candi Muarojambi, Selasa 29 Mei 2018. Foto Asenk Lee Saragih.


Keberadaan Kios-Kios Pedagang di Komplek Candi Muarojambi, Selasa 29 Mei 2018. Foto Asenk Lee Saragih.


Keberadaan Kios-Kios Pedagang di Komplek Candi Muarojambi, Selasa 29 Mei 2018. Foto Asenk Lee Saragih.
Keberadaan Kios-Kios Pedagang di Komplek Candi Muarojambi, Selasa 29 Mei 2018. Foto Asenk Lee Saragih.
 
Jalan Setapak Mulai dibangun di Komplek Candi Muarojambi, Selasa 29 Mei 2018. Foto Asenk Lee Saragih.




Jalan Setapak Mulai dibangun di Komplek Candi Muarojambi, Selasa 29 Mei 2018. Foto Asenk Lee Saragih.
Jalan Setapak Sudah Rusak di Komplek Candi Muarojambi, Selasa 29 Mei 2018. Foto Asenk Lee Saragih.




Jalan Setapak Sudah Rusak di Komplek Candi Muarojambi, Selasa 29 Mei 2018. Foto Asenk Lee Saragih.



Sempat Diguyur Hujan, Umat Budha Sumatera Tetap Hikmat Rayakan Waisak di Candi Muarojambi

Plt Gubernur Jambi Hadiri Perayaan Waisak 2018 
Ritual Mahayana –Yivo (Mandi Rupang) olah Sakyakirti (Sagin) dipandu Bhiksu Nyanamaitri di Candi Gumpung Komplek Candi Muarojambi, Desa Muarojambi, Kecamatan Maro Sebo, kabupaten Muarojambi, Selasa (29/5/2018). Ritual ini dalam rangka perayaan Waisak 2562 Buddha Earth (BE) Se Sumatera. Foto Asenk Lee Saragih

Ritual Mahayana –Yivo (Mandi Rupang) olah Sakyakirti (Sagin) dipandu Bhiksu Nyanamaitri di Candi Gumpung Komplek Candi Muarojambi, Desa Muarojambi, Kecamatan Maro Sebo, kabupaten Muarojambi, Selasa (29/5/2018). Ritual ini dalam rangka perayaan Waisak 2562 Buddha Earth (BE) Se Sumatera. Foto Asenk Lee Saragih
Puncak perayaan Waisak 2018 dihadiri sekitar 1.000 orang umat Budha dari perwakilan hampir seluruh Sumatera. Ritual Waisak 2562 BE berupa Soka Gakkai, Nichiren Soshu, Mahayana Tiongkok, Theravada, Vajrayana dan Tantrayana Chen Fo Zhong.

BERITAKU, Muarojambi- Umat Budha se-Sumatera merayakan hari raya Waisak 2562 BE (Budha Earth) di Candi Gumpung Komplek Situs Purbakala Candi Muarojambi, di Desa Muarojambi, Kecamatan Maro Sebo, Kabupaten Muarojambi, Provinsi Jambi, Selasa (29/5/2018). Puncak perayaan Waisak 2018 itu dihadiri sekitar 1.000 orang umat Budha dari Provinsi Sumatera Utara, Riau, Kepulauan Riau, Jambi, Bangka Belitung, Sumatera Selatan dan Lampung.

Perayaan Waisak 2562 BE yang mengusung tema "Harmoni Dalam Kebhinnekaan untuk Memperkokoh Keutuhan Bangsa” dihadiri sekitar 50 Bhiksu serta juga dihadiri Plt Gubernur Jambi H Fachrori Umar, Kapolda Jambi Brigjen Pol Muchlis AS, Danrem 042/Gapu yang baru, Kol. Inf. Dany Budiyanto, SE, Bupati Muarojambi Hj Masnah Busro, Kepala Perwakilan BI Jambi Bayu Martanto, Karo Humas Protokol Setda Provinsi Jambi Johansyah dan undangan lainnya.

Menurut Ketua Wanita WAMI (Wanita Buddhis Mahahikay Indonesia) Hwang Surti MCOH (Maha Cetya Oenang Heiwalen) yang juga sebagai Panitia Perayaan Waisak 2562 BE/2018 se-Sumatera, perayaan Waisak se-Sumatera di Candi Muarojambi sempat tertunda sekitar satu jam karena hujan. Namun demikian hujan reda sehingga prosesi Ritual Perayaan Waisak bisa dilaksanakan.

Menurut Hwang Surti, ritual Waisak 2562 BE yang dilaksanakan di Candi Gumpung Komplek Candi Muarojambi, yakni Soka Gakkai, Nichiren Soshu, Mahayana Tiongkok, Theravada, Vajrayana dan Tantrayana Chen Fo Zhong. Selain itu pada perayaan Waisak di Candi Muarojambi itu juga digelar penyalaan seribu lampion, pementasan seni drama tari (sendratari) “The Journey 0f Attisa”.

Setidaknya ada 24 rangkaian Perayaan Waisak 2562 BE di Candi Gumpung Komplek Candi Muarojambi. Acara meliputi Pembukaan acara oleh MC Suwandi, Shandy, Waskito. Kemudian Ritual Mahayana –Yivo (Mandi Rupang) olah Sakyakirti (Sagin) dipandu Bhiksu Nyanamaitri, Soka Gakkai, Nichiren Soshu, Mahayana Tiongkok, Theravada, Vajrayana dan Tantrayana Chen Fo Zhong, Tarian Selamat Datang Tim Kesenian Kantor Gubernur Jambi.
(Ki-Ka) Bupati Muarojambi Hj Masnah Busro, Kapolda Jambi Brigjen Pol Muchlis AS, Plt Gubernur Jambi H Fachrori Umar. Foto Asenk Lee Saragih.

(Ki-Ka) Bupati Muarojambi Hj Masnah Busro, Kapolda Jambi Brigjen Pol Muchlis AS, Plt Gubernur Jambi H Fachrori Umar, Danrem 042/Gapu Jambi. Foto Asenk Lee Saragih
Selanjutnya Doa Pembuka Islam dan Budha, Kata Sambutan Bupati Muarojambi Hj Masnah Busro, Kata Sambutan Plt Gubernur Jambi H Fachrori Umar, Pesan Waisak oleh Bhikku Thanavaro (Sakyakirti-Sagin), Sambutan Menteri Agama diwakilkan oleh Sekretaris Ditjen Buddha Depag  Nyoman Suryadharma. 

Kemudian Tarian Daerah Cindei dari Disbudpar Provinsi Jambi asuhan Cholidah, Buka Puasa Bersama, pementasan seni drama tari (sendratari) “The Journey 0f Attisa” oleh Generasi Muda Buddha asuhan Shintia.

Rangkaian Ritual lainnya yakni Pradiksina dari MCOH dipimpim Kuntari, Amisapuja dari Jaya Manggala dipimpin oleh Bhikku  Vipulla, Tuntunan Sila dari Vimuttara (STT) dipimpin oleh Luangpo, Kebaktian Waisak Paritta (Theravada), Waisak Puji Gatha dari Sakyakirti dan MCOH dipimpin oleh Sakya dan Hwang Surti.

Selanjutnya ritual Dhammadesanna dari Sakyakirti dipimpin oleh Bhikku Thanavaro. Kemudian menyambut detik-detik Waisak  2562 BE/2018 Pukul 21.05 hingga Pukul 21.35 yakni ritual Pemberkahan Air Suci dari MCOH dan Phracinnasih oleh Bhikku Maha, Paritta Ettavata (Penutup) dari Sakya dan MCOH dipimpin oleh Hwang Surti serta Doa Penutup serta pelepasan seribu lampion dari Jaya Manggala dipimpin oleh Bhikku Bhdra Putra.

Menurut Hwang Surti, sendratari tersebut menggambarkan perjalanan guru Budha asal India terhadap ajaran tertinggi Budha, yakni Bodhicitta yang ditemukan di Candi Muarojambi. Ajaran tertinggi Budha tersebut ditemukan guru India tersebut dari seorang Guru Besar Budha Asli Indonesia keturunan Wangsa Syailendra, yaitu Serlingpa Dharmakirti.

“Kalau Candi Prambanan di Yogyakarta memiliki sendratari Ramayana, maka Candi Muarojambi di Provinsi Jambi memiliki sendratari Journey of Attisa,” ujarnya.
Perayaan Waisak 2562 Buddha Earth (BE) Se Sumatera 2018 di Candi Gumpung Komplek Candi Muarojambi, Desa Muarojambi, Kecamatan Maro Sebo, Kabupaten Muarojambi, Selasa (29/5/2018).  Foto Asenk Lee Saragih
Lebih lanjut dikatakan, prosesi ritual Waisak di Jambi sudah dimulai awal April lalu dengan pengambilan air suci dari Danau Gunung Tujuh, Kabupaten Kerinci. Kemudian dilanjutkan dengan pengambilan Api Puja Abadi dari Sungai Gelam, Kabupaten Muarojambi. Seluruh prosesi perayaan Waisak di Candi Muarojambi dipimpin puluhan biksu atau pendeta Budha dari Jambi dan berbagai daerah di Sumatera.

Secara terpisah, Kepala Seksi Humas Perayaan Waisak 2562 BE se-Sumatera, Hartadinata mengatakan, pengamanan perayaan Waisak se-Sumatera di Jambi, pihaknya berkoordinasi dengan segenap jajaran keamanan dari Polda Jambi dan Komando Rayon Militer (Korem) 042/Garud Putih (Gapu) Jambi, Polres Muarojambi.

Dikatakan, perayaan Waisak 2562 BE di Candi Muarojambi dilaksanakan atas kerjasama Perkumpulan Umat Budha (PUB) Jambi dengan Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jambi. Perayaan Waisak di situs purbakala terluas di Asia tersebut dimaksudkan sebagai salah satu promosi wisata sejarah dan religi Candi Muarojambi di tingkat regional Sumatera, nasional dan internasional.

Ditambahkan, kehadiran sekitar 1.000 orang umat Budha se-Sumatera pada perayaan Waisak di Candi Muarojambi sudah menjadi salah satu promosi situs bersejarah tersebut. Umat Budha yang datang dari daerah lain nantinya akan menjadi duta-duta promosi wisata Candi Muarojambi di daerah masing-masing.

 “Jumlah personil polisi dan TNI yang dikerahkan mengamankan perayaan Waisak 2562 se-Sumatera di Candi Muarojambi mencapai 500 orang. Kami juga berharap segenap warga masyarakat dan umat beragama di Jambi turut mendukung iklim kondusif pada perayaan Waisak ini,” kata kata Kapolres Muarojambi AKBP Mardiono didampingi Dandim Dandim 0415/Batanghari Jambi Letkol Inf Denny Noviandi saat apel pengamanan Waisak di Komplek Candi Muarojambi, Selasa (29/5/2018).  (JP-Asenk Lee)
Prosesi Ritual Para Bhikku Memasuki Wilayah Candi Gumpung Komplek Candi Muarojambi, Desa Muarojambi, Kecamatan Maro Sebo, Kabupaten Muarojambi, Selasa (29/5/2018). Ritual ini dalam rangka perayaan Waisak 2562 Buddha Earth (BE) Se Sumatera 2018. Foto Asenk Lee Saragih


Prosesi Ritual Para Bhikku Memasuki Wilayah Candi Gumpung Komplek Candi Muarojambi, Desa Muarojambi, Kecamatan Maro Sebo, Kabupaten Muarojambi, Selasa (29/5/2018). Ritual ini dalam rangka perayaan Waisak 2562 Buddha Earth (BE) Se Sumatera 2018. Foto Asenk Lee Saragih


Prosesi Ritual Para Bhikku Memasuki Wilayah Candi Gumpung Komplek Candi Muarojambi, Desa Muarojambi, Kecamatan Maro Sebo, Kabupaten Muarojambi, Selasa (29/5/2018). Ritual ini dalam rangka perayaan Waisak 2562 Buddha Earth (BE) Se Sumatera 2018. Foto Asenk Lee Saragih


Prosesi Ritual Para Bhikku Memasuki Wilayah Candi Gumpung Komplek Candi Muarojambi, Desa Muarojambi, Kecamatan Maro Sebo, Kabupaten Muarojambi, Selasa (29/5/2018). Ritual ini dalam rangka perayaan Waisak 2562 Buddha Earth (BE) Se Sumatera 2018. Foto Asenk Lee Saragih


Prosesi Ritual Para Bhikku Memasuki Wilayah Candi Gumpung Komplek Candi Muarojambi, Desa Muarojambi, Kecamatan Maro Sebo, Kabupaten Muarojambi, Selasa (29/5/2018). Ritual ini dalam rangka perayaan Waisak 2562 Buddha Earth (BE) Se Sumatera 2018. Foto Asenk Lee Saragih


Prosesi Ritual Para Bhikku Memasuki Wilayah Candi Gumpung Komplek Candi Muarojambi, Desa Muarojambi, Kecamatan Maro Sebo, Kabupaten Muarojambi, Selasa (29/5/2018). Ritual ini dalam rangka perayaan Waisak 2562 Buddha Earth (BE) Se Sumatera 2018. Foto Asenk Lee Saragih


Prosesi Ritual Para Bhikku Memasuki Wilayah Candi Gumpung Komplek Candi Muarojambi, Desa Muarojambi, Kecamatan Maro Sebo, Kabupaten Muarojambi, Selasa (29/5/2018). Ritual ini dalam rangka perayaan Waisak 2562 Buddha Earth (BE) Se Sumatera 2018. Foto Asenk Lee Saragih