.

.
.

Kamis, 15 Desember 2016

Dear Ahok. Aku Salut!

By: Nurholis 'Gurune Jagad'

BERITAKU-Dear Ahok. (Jujur) aku bukanlah fans-mu, bukan pula loyalismu. Katanya kamu sudah banyak pengalaman jadi pejabat publik, sebagai anggota dewan dan bupati. Tapi aku tak mengenalmu saat itu. Ah! Mungkin aku yang kurang gaul, kurang rajin baca berita. Atau kamu yang cupu. Kurang ngeksis di TV.

Aku baru mengenalmu saat kamu bersanding dengan Pakde Jokowi dalam pilkada DKI lalu. Dan aku lebih mengenalmu saat kamu resmi menjabat gubernur. Aku mengenalmu cukup lewat media. Mereka suka ‘ribut’ membicarakan kamu. Bagaimana tidak? 

Kamu selalu bikin ulah, ya soal Kalijodo, Metro Mini, PNS lelet, pompa air bahkan soal ‘nenek-nenek’ (a.k.a Pemahaman Nenek Lu). Dari itu sem
ualah aku beranikan diri sok-sok-an mengenalmu dan mencapmu sebagai orang garis keras. 

Semua dilibas tanpa berkasih-belas. Dari preman sampai anggota dewan, kamu lawan. Kamu itu GIE versi masa kini. Idealismemu tak laku di pasaran karena terlampau mahal-tak ada yang sanggup membeli. Aku salut!.

Ahok! Kamu memang keras, tak bosan membuat telinga orang panas. Ulahmu di Kepulauan Seribu waktu itu adalah yang paling sensasional. Orang-orang penghuni jagat raya ini ikut nimbrung ngobrolin kamu. Tak hanya di Indonesia tapi di luar negeri. 

Ya! Bukan hanya media nasional yang ribut soal kamu tapi media internasional pun kepo nya bukan main. Ini bukti kamu luar biasa, Pakde Jokowi pun kalah populer sama kamu. Ah! Aku jadi berpikir “jangan-jangan alien di planet Mars pun lagi ngobrolin kamu”. Aku salut!.

Ahok! Andai (dulu) kamu memilih jadi pengusaha saja, mungkin tak ‘merepotkan’ banyak orang seperti sekarang. Bahkan orang-orang harus berjalan kaki dari Ciamis ke Jakarta demi ‘menyebut-nyebut’ namamu. 

Bahkan Pakde Jokowi pun harus turun tangan ke Monas hujan-hujanan. Bukan hanya mereka yang repot tapi kamu juga. Mau kampanye kesana DITOLAK, kesini DITOLAK. Kamu ini keras tapi pemikir yang nyantai, tak ambil pusing. 

“Ditolak ya sudah. Nggak dipilih ya nggak papa”. Kamu tak perlu janji program bagi-bagi uang, kamu tak perlu lompat moshing, kamu tak perlu menyandra program pemerintah untuk mengemis suara rakyat. 

Bahkan yang ada malah sebaliknya, banyak warga berswadaya mengumpulkan dana dan menyerahkan KTP nya hanya untukmu. Istri Hoegeng pun sampai berkirim surat untukmu sebagai pengakuan dan penghargaan atas kejujuranmu. Kenyataan terbalik seperti ini sungguh sulit diterima oleh penikmat ‘lebaran kuda’. Saking sulitnya sampai bikin geger otak mereka. Aku salut!.

Ahok! Kamu itu keras, benar-benar keras. Didemo besar-besaran pun kamu tetap kerja seperti biasa. Ah! Seperti Pakde Jokowi banget. Didatangin tamu yang katanya 7 juta orang, malah blusukan. Ah! Dasar tukang kerja. Pokoknya kerja kerja kerja.

Ahok! Kamu itu keras, tapi tetap saja kamu itu manusia. Maka pantaslah jika kamu menangis saat membacakan pembelaanmu. Bagi mereka yang punya hati, bagaimana mungkin tak terenyuh saat melihat kekejaman ini. 

Orang yang berjuang melawan nasionalis berjiwa kolonialisme itu disidang untuk mempertanggungjawabkan sesuatu yang tak dilakukannya. Tak ada alasan yang masuk akal bahwa kamu berniat dan melakukan penistaan agama. Emang dasar mereka yang sudah menelan racun mentah-mentah. Seorang doktor sekaligus cendekiawan muslim, Buya Syafi’i pun dicaci maki habis-habisan. 

Sari Roti pun diboikot. Kenapa tak sekalian produsen mobil mewah rizieq diboikot? Sungguh aksi tak kenal nalar. Jadi apapun yang kamu lakukan akan tetap salah dimata mereka yang notabene sedang keracunan akut.

Ahok! Kamu sudah cukup berjiwa besar. Sebelum fatwa MUI diteken, kamu sudah minta maaf. Kemarin pun kamu minta maaf (kesekian kalinya). Dan di meja hijau kamu membacakan pembelaanmu sambil menangis. Cukup! Cukup sudah usahamu. Jika negara ini benar menjunjung tinggi keadilan, maka akan ada keadilan buat pejuang sepertimu. Dan tak ada perjuanganmu yang sia-sia.

Ahok! Kamu itu konsisten dengan keberanianmu. Berbeda dengan si rizieq dan 7 juta massanya yang sampai minta bantuan seorang Presiden untuk menangkap dan menahanmu. Padahal lebih masuk akal jika kamu yang minta bantuan Pakde Jokowi. 

Kamu dekat dengan beliau dan punya prinsip dan etos kerja yang sama. Tapi kenapa kamu tak melakukannya? Karena kamu pemimpin yang baik. Menghargai penegakan dan proses hukum yang berjalan. Bahkan sebelum kamu ditetapkan sebagai tersangka pun kamu berinisiatif mendatangi Mabes Polri untuk segera diperiksa. Aku salut!

Ahok! Aku memang tak bisa menyumbangkan suaraku di Februari nanti. Tapi aku berharap tulisanku ini dapat menyadarkan mereka yang lagi keracunan akut dan mengedukasi mereka yang masih polos, newbie sok militan.

Ahok! Tahukah kamu? Aku ini bukan penulis. Aku benci pelajaran Bahasa Indonesia sejak duduk di bangku SMP. Tapi kenapa aku menulis? Mungkin jawaban yang sama untuk pertanyaan kenapa Bruce Wayne memilih kembali menjadi Batman setelah vakum selama 8 tahun?

Ahok! Kamu tahu kenapa Batman bertopeng? Karena ia mengkhawatirkan keselamatan orang-orang yang disayanginya. Tapi kamu tak memerlukan topeng. Kamu lebih hebat dari Batman. You are the real superhero. I am proud of you.

Andai ada yang lebih diharap-harap selain keadilan, maka itu salamku.

Salam…

Tidak ada komentar: