Thursday, 2 August 2012

Sidang Korupsi Bekas Sekda Merangin Ricuh

Marah : Adik terdakwa bekas Sekda Merangin, Ali berteriak karena abangnya divonis 6 tahun penjara denda Rp 200 juta di PN Tipikor Jambi, Rabu(1/8/12).
Jambi, BATAKPOS

Sidang putusan tindak pidana korupsi (Tipikor) dengan terdakwa bekas Sekda Kabupaten Merangin, Arfandi Ibnu Hajar, yang divonis 6 tahun penjara berakhir ricuh. Terdakwa yang dijerat korupsi Surat Pertanggung Jawaban (SPJ) yang merugikan Negara Rp 2,5 miliar.

Pihak keluarga terdakwa berteriak, tangis, serta protes keras langsung terdengar, saat hakim menyatakan Arfandi bersalah dan dihukum 6 tahun penjara serta denda Rp 200 juta. “Itu kurang pak hakim, tembak saja Arfandi,”kata Ali, salah seorang anggota keluarga Arfandi.

Keluarga tak berhenti-hentinya protes, ruang sidang pun jadi kacau balau. Namun majelis hakim tetap membacakan putusan. “Diam dulu,”kata Sulthoni, hakim ketua sembari mengetok palu dengan keras.

Namun seluruh keluarga Arfandi tetap berteriak histeris. “Arfandi tidak korupsi, ya Allah, perlihatkan kekuasaanmu ya Allah,” ujar istri dan anak-anaknya. Bahkan untuk menenangkan keluarga Arfandi, hakim memerintahkan kepolisian untuk menarik keluarga dari ruang sidang.

“Pak polisi tarik itu keluar. Sidang ini harus dilanjutkan, yang tidak bisa diam silahkan keluar,”katanya. Upaya polisi pun tidak dihiraukan, mereka terus menyampaikan ketidakpuasan terhadap putusan itu.

“Demi Allah saya bersumpah siap keluar dari agama Islam kalau saya menikmati uang itu,”kata Arfandi. Ketidakpuasan keluarga Arfandi terhadap putusan majelis hakim, tidak saja disampaikan lewat teriakan, makian dan tangisan.

Tiga orang perwakilan dari keluarga, tetap berupaya untuk menemui hakim dan menyerahkan empat buah Al-Qur'an untuk tiga hakim dan satu buat jaksa.  Karena tidak dapat menyerahkan secara langsung kepada yang bersangkutan, mereka menyerahkan melalui salah seorang panitera pengadilan di ruang Humas Pengadilan Tipikor Jambi.

Ketiga keluarga Arfandi yaitu Ali, Syafrufi dan Jaharuddin yang menyerahkan Al-Qur'an tersebut menyatakan, kitab suci itu merupakan amanah dari seorang syaih di Jawa Barat. 

“Saya menyampaikan amanah syaih untuk ketiga hakim yang menyidangkan perkara Arfandi. Menurut syaih itu, kami harus menyampaikan Al-Qur'an 30 juz ini kepada ketiga hakim,”katanya.

Menurut Ali, apabila putusan ini menzolimi Arfandi, dia akan dikutuk 7 turunan oleh Al-Quran 30 juz ini. “Sebaliknya kalau putusan itu benar, Al-Qur'an ini lah yang melindunginya sampai ke surga,”kata Ali sembari menyerahkan Al-Qur'an dan mereka meninggalkan ruang dengan baik-baik.

Selain Arfandi Ibnu Hajar, para terdakwa yang diserat dalam kasus ini yakni Hamdan (Mantan Pejabat Pembuat Kebijakan –PPK SKPD Merangin 2007), Ayakudin (Mantan Bendahara Pengeluaran Setda Merangin 2007).

Laporan Pertanggung Jawaban (LPJ) dan Proposal Bantuan fiktif terungkap sebagai modus penggelapan dana tersebut.

Arfandi Ibnu Hajar Divonis Bebas

Sebelumnya, pada sidang putusan sela di PN Bangko 14 November 2011 lalu, Majelis Hakim Pengadilan Negeri (PN) Bangko yang diketuai FX Jiwo Santoso SH, membebaskan Arfandi Ibnu Hajar dari tahanan.

Dalam sidang putusan sela Senin (14/11/2011), Hakim menerima keberatan terdakwa dan membebaskannya dari tahanan. Arfandi yang tersandung kasus korupsi SPJ fiktif tahun 2006-2007 yang menelan kerugian negara senilai Rp 7,2 miliar ini, sebelumnya sempat ditahan setelah dilimpahkan dari Kejati Jambi ke Kejari Bangko.

Untuk diketahui, 19 Oktober 2011 lalu, Arfandi ditahan Kejari Bangko. Dia didakwa JPU Kejari Bangko dengan pasal 3 Jo pasal 18 Undang-undang nomor 31 tahun 1999 tentang pemberantasan tindak pidana korupsi, sebagaimana telah diubah dengan Undang-undang nomor 20 tahun 2001 Jo pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP jo pasal 64 ayat 1 (KUHP).

Arfandi dinilai telah melakukan penyelewengan keuangan negara dengan membuat SPj fiktif. Akibat perbuatannya itu, mengakibatkan kerugian keuangan negara sebesar Rp 7.279.222.250, hal ini sesuai laporan hasil tim audit BKP-RI Perwakilan Jambi, tanggal 10 Juni 2010. RUK

Bekas Sekda Merangin, Arfandi Ibnu Hajar Divonis 6 Tahun

Arfandi Ibnu Hajar.Foto Rosenman Manihuruk


Jambi, BATAKPOS


Bekas Sekda Kabupaten Merangin, Arfandi Ibnu Hajar, terdakwa kasus dugaan korupsi Surat Pertanggung Jawaban (SPJ) yang diduga fiktif pada APBD Kabupaten Merangin tahun 2007 senilai negara Rp 7 miliar divonis 6 tahun penjara. Terdakwa juga didenda sebanyak Rp 200 juta dan membayar uang pengganti sebanyak Rp 2,5 miliar.

Arfandi Ibnu Hajar mendengarkan pembacaan amar putusan yang dibacakan oleh majelis hakim Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) di PN Jambi, Rabu (1/8/12). Pembacaan amar putusan tersebut dibacakan majelis hakim yang diketuai oleh Sultoni dan beranggotakan Eliwati dan Elisa Florence.

Terdakwa didampingi tim penasehat hukumnya T Simanjuntak dan Vanika Anom. Bekas Sekda Merangin ini tampak tenang mendengarkan pembacaan amar putusan tersebut. Arfandi tersandung dugaan korupsi Surat Pertanggung Jawaban yang diduga fiktif dan merugikan keuangan negara sebesar Rp 2,5 miliar.

Pada sidang sebelumnya Rabu (20/6/12), jaksa penuntut umum (JPU) menuntut Arfandi dengan pidana 8 tahun enam bulan penjara. Selain pidana penjara, Arfandi Ibnu Hajar diwajibkan membayar denda sebanyak Rp 200 juta, dan apabila tidak mampu membayar maka diganti dengan kurungan penjara selama 3 bulan.

Terdakwa juga harus membayar uang pengganti sebanyak Rp 2,555 miliar. Apabila tidak sanggup membayar, maka diganti dengan pidana kurungan selama 4,3 tahun. Tuntutan ini dibacakan JPU dari Kejaksaan Tinggi (Kejati) Jambi, Dyah Purnama Ningsih SH.

Dalam tuntutannya, jaksa menyatakan bahwa terdakwa telah terbukti melakukan tindak pidana korupsi sesuai dengan pasal 2 ayat 1 jo pasal 55 Undang-Undang 31 Tahun 1999 tentang Tipikor. Terdakwa dinilai telah memperkaya diri sendiri atau orang lain dan menyebabkan kerugian negara Rp 7 miliar.

“Dengan ini meminta majelis hakim menjatuhkan pidana penjara selama 8 tahun 6 bulan penjara dan denda Rp 200 juta. Hal yang memberatkan terdakwa, disamping perbuatan terdakwa telah menyebabkan kerugian negara, juga karena tidak berterus terang mengaku perbuatannya serta memberikan keterangan berbelit-belit. Adapun yang meringankan, terdakwa memiliki tanggungan keluarga, sopan dan tidak pernah dihukum,”katanya.

Sidang Ricuh

Pada sidang kali ini puluhan kerabat Arfandi memadati ruang sidang Tipikor Jambi, anggota keluarga mantan Sekda Merangin yang terdiri dari laki-laki dan perempuan terlihat serius mendengarkan kalimat demi kalimat amar putusan yang dibacakan majelis hakim. 

Usai pembacaan putusan oleh hakim, massa pendukung Arfandi Ibnu Hajar meneriaki para hakim tidak berlaku adil. Massa menyebut kalau Bupati Merangin Rotani Yutaka saat itu yang paling bertangungjawab atas dana tersebut. Situasi sidang sempat ricuh dan akhirnya massa diusir dari ruang siding karena rebut.

Putusan tersebut dinilai cukup tinggi oleh pihak keluarga Arfandi, bahkan istrinya tak berhenti menangis. Bahkan hingga usai persidangan, istri Arfandi tak berhenti menangis. Dia pun akhirnya dibawa oleh pihak keluarga yang lain menuju ke mobil.

Sementara Arfandi, usai pembacaan putusan langsung dibawa ke Lapas Jambi, tempat dia ditahan.  Sebelumnya Arfandi membantah sejumlah keterangan saksi dipersidangan. Dirinya saat itu (2007) ditelepon Silvia, bahwa ada titipan Bupati Merangin, Rotani Yutaka, berupa keripik pisang untuk pejabat Kejaksaan Tinggi Jambi bernama Hutagalung.

“Keripik pisang untuk Pak Hutagalung. Kebetulan waktu itu saya ada acara di Jambi, jadi karena titipan pak bupati saya iyakan, karena saya pikir hanya keripik pisang. Ternyata ada uang miliaran Rupiah,” terangnya. 

Arfandi mengaku bertukar mobil di parkiran Masjid Nurdin Jambi. Setelah itu dia langsung mengantarkan keripik pisang tersebut ke Hutagalung. “Saya baru tahu ada uang setelah saya mau menyerahkannya ke Hutagalung,” kataArfandi. RUK

Pengrajin Tahu Tempe Mulai Mogok Produksi

Gubernur Jambi HBA didampingi Walikota Jambi, H. Bambang Priyanto saat meninjau sentra pembuatan tahu tempe di  lorong Gembira, Kelurahan Rajawali, Kecamatan Jambi Timur, Kota Jambi, Selasa (31/7/12). Foto batakpos/rosenman manihuruk

Jambi, BATAKPOS

Seluruh pedagang tempe-tahu  di Kota Jambi berencana melakukan mogok massal mulai Jumat (3/8/12) besok. Selain pedagang, pengrajin juga akan mogok massal selama tiga hari sebagai tanda-tanda naiknya harga tempe-tahu.

Sadikin pengusaha tahu tempe Jambi kepada BATAKPOS, Rabu (1/8/12) menyebutkan rencananya 91 pengusaha tahu tempe di Kota Jambi akan menghetikan sementara produksinya selama tiga untuk mengambil aba-aba menaikan harga tahu tempe di pasaran.

Harga itu akan naik sekitar Rp 500 perpotong dari sebelumnya harga Rp. 2000 mejadi Rp.2.500 perpotong. Sementara Abdul Kadir juga mengatakan hal yang sama.

“Mulai hari ini kita akan stop produksi tempe. Kita tidak sanggup kalau harus seperti ini. Tidak hanya dari KOPTI yang akan mogok missal, dari paguyuban lain informasinya juga sepakat untuk melakukan mogok missal,”kata Sadikin.

Menurut Sadikin, Bendahara Koperasi Tempe Indonesia (KOPTI) daerah Jambi itu, kenaikan harga kedelai ini telah dirasakan sejak Februari lalu, ketika itu hampir setiap hari harga kedelai terus naik, dan puncaknya pada Minggu terakhir bulan Juli mencapai Rp. 7.800 perkilo.

Menurut Abdul Kadir, kedelai lokal produksinya tidak mencukupi, para petani kedelai di Jambi masih belum bisa memproduksi kedelai sesui harapan. Karena dipanen saat kedelai belum tua dan belum kering, sehingga kadar airnya tinggi.

Sementara itu Gubernur Jambi, H. Hasan Basri Agus (HBA) ketika meninjau sentra pembuatan tahu tempe di  lorong Gembira, Kelurahan Rajawali, Kecamatan Jambi Timur, Kota Jambi, Selasa (31/7/12) mengatakan, Jambi hingga saat ini masih mendatangkan kedelai dari Amerika Serikat dan Malaysia.

Bahan baku untuk membuat tahu dan tempe tersebut masuk ke Jambi melalui Batam, Kepulauan Riau kemudian dibawa ke Kota Jambi lewat Kota Kualatungkal, Kabupaten Tanjungjabung Barat (Tanjabbar). RUK