Monday, 23 January 2012

MASKOT HPN KE 27 DI JAMBI 9 FEBRUARI 2012

MASKOT HPN KE 27 DI JAMBI 9 FEBRUARI 2012. SUMBER HUMAS PROV JAMBI.

Pecahkan Rekor MURI, Namun Minim Simpatik

Catatan Pinggir di Pesta Danau Toba

Rakor MURI : Rosul Damanik (paling kanan) bersama Group (kelompok) “Gondrang Riah Madear” Sidamanik pecahkan Rekor MURI pada Parade Gondang terlama 72 jam non stop di Pesta Danau Toba (PDT) 27 s/d 30 Desember 2011 di Pantai Bebas Parapat, Kabupaten Simalungun. Group Gondrang ini mengusung lima kelompok yang beranggotakan masing-masing lima personil dengan empat orang peniup Serunai. Foto batakpos/rosenman manihuruk

Perhelatan Pesta Danau Toba (PDT) telah usai ( 27 s/d 30 Desember 2011) di Kota Parapat, Kabupaten Simalungun, Provinsi Sumatera Utara. Namun pesta tahunan itu juga meninggalkan banyak cerita, dari kesiapan panitia hingga kemasan kegiatan yang terkesan hanya seremoni. Dengan kasat mata, PDT ternyata hanya milik pengunjung dari perantauan semata, tidak berpengaruh besar bagi masyarakat sekitar Danau Toba yang mencakup 7 kabupaten sekitaran Danau Toba.

Pelaksanaan PDT 2011 bisa saja dinikmati kalangan pengusaha dari dalam dan luar negeri atlit daerah, nasional dan luar negeri, artis ibukota serta masyarakat umum. Namun PDT tidak mampu membangkitkan daya tarik wisata ke Parapat. Ramainya Kota Parapat hingga hotel-hotel penuh selama tiga hari, bukan karena magnet PDT, namun karena banyak wisatawan melewatkan pergantian tahun di Parapat.

Salah satu pertunjukan yang mencatat rekor Museum Rekor Indonesia (MURI) pada PDT 27 s/d 30 Desember 2011 yakni Parade Gondang terlama 72 jam non stop dari tanggal 27 s/d 30 Desember 2011 di Pantai Bebas Parapat, Kabupaten Simalungun. Parade gondrang itu disuguhkan oleh Group (kelompok) “Gondrang Riah Madear” Sidamanik dengan mengusung lima kelompok yang beranggotakan masing-masing lima personil dengan empat orang peniup Serunai.

Jenis irama gondrang yang dibawakan yakni Gondrang (gendang) Simalungun dan Toba. Parade gondrang etnik Batak Simalungun dan Toba ini dimulai paka Selasa (27/12) sekitar pukul 15.30 WIB usai Pembukaan PDT di Open Stage Parapat dan berakhir 30 Des 2011.

Para pemain gondrang “Group Riah Madear” asuhan Rosul Damanik ini mayoritas dari Sekolah SMA YPI Darma Budi Sidamanik. Lima kelompok gondrang ini memainkan lagu gondrang Simalungun-Toba secara marathon bergantian.

Namun sejauh ini pagelaran Parade Gondang terlama 72 jam non stop ini belum mampu menyedot pengunjung di PDT Parapat. Pertunjukan tersebut minim simpatik karena tidak dikemas menarik. Pandangan hanya monoton kepada para pemain gondrang dan serunai tanpa didampingi suguhan tarian yang bisa menarik perhatian pengunjung.

Menurut Rosul Damanik, group “Gondrang Riah Madear” Sidamanik sengaja ditunjuk panitia PDT karena Parapat merupakan Daerah Simalungun. “Panitia menunjuk kami untuk tampil dan pecahkan rekor MURI pada Parade Gondang terlama 72 jam non stop,”kata Rosul Damanik saat ditemui BATAKPOS di arena pagelaran di Pantai Bebas Parapat, Kabupaten Simalungun, Rabu (28/12).

Disebutkan, pemain “Sarunei” (Serunai) terdiri dari empat pemain diantaranya Rosul Damanik, R Nainggolan, Jakuat Purba. Lagu-lagu yang dilantunkan dari Sarunei mayoritas lagu Simalungun ditambah dengan lagu-lagu gondrang Batak Toba.

“Kita bertekat bisa pecahkan rekor MURI ini sebagai catatan sejarah bagi dunia seni tradisional Simalungun. Kami tidak ada dijanjikan apa-apa, namun kami berupaya pecahkan rekor MURI ini. Semoga seluruh personil diberikan kesehatan yang fit,”katanya.

Pemain “Gondrang Riah Madear” Sidamanik marga Saragih, Damanik, Nainggolan saat berbincang-bincang dengan BATAKPOS, Selasa (27/12) malam mengatakan, mereka semuanya dari SMA YPI Sidamanik. Mereka tidak dijanjikan imbalan yang menggiurkan, namun mereka tampil tulus hanya untuk memasyarakatkan Gondrang Tradisional Simalungun dan Toba.

TIDAK MENARIK SIMPATIK

A Tarigan, seorang warga Parapat saat menonton pagelaran gondrang itu mengatakan, panitia PDT kurang mengemas pagelaran gondrang tersebut dengan menarik, sehingga minim penonton (pengunjung). “Seharusnya panitia menyertakan penarinya sehingga lebih enak dilihat dan penonton kaya akan hiburan tradisionalnya,”katanya.

Menurut Tarigan, yang sudah lahir di Parapat dengan usaha toko “Ejuah-Ejuah” ini, musik tradisional seperti Gondrang Simalungun dan Toba seharusnya bisa menarik pengunjung di PDT jika dikemas dengan apik dan professional.

“Panitia harusnya menyerahkan Parade ini kepada Even Orgaizer (EO) agar dikemas menarik tanpa menghilangkan nilai tradisionalnya. Ini menjadi pelajaran buat panitia PDT berikutnya. Kemudian partisipasi pemerintah kabupaten di pesisir Danau Toba juga kurang. Seperti dari Kabupaten Karo, Dairi, Taput, Samosir dan Simalungun pada khususnya,”katanya.

Tiga Menteri Gagal Hadiri PDT

Awalnya PDT akan dibuka oleh Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Indonesia Ir. M. Hatta Radjasa dan akan dihadiri Menteri Parawisata dan Kebudayaan Mari Elka Pangestu dan Menteri Kehutanan Zulkifli Hasan. Spanduk ucapan selamat dating kepada tiga menteri tersebut sudah tersebar di setiap sudut jalan di Parapat.

Namun dengan alasan kenyamanan penerbangan, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Indonesia beserta rombongan gagal mendarat di Bandar Udara Silangit yang terletak di Siborong-borong, Sumatera Utara. Bandar udara ini memiliki ukuran landasan pacu 2.250 m x 30 m. Jarak dari pusat kota sekitar 7 km.
Bandara dibangun pada masa penjajahan Jepang, pembangunan kembali bandara mulai dilakukan sejak tahun 1995 dengan menambah landasan pacu sepanjang 900 meter sehingga menjadi 1.400 meter. Pada saat ini (2011) Bandara akhirnya memiliki landasan pacu 2.250 meter. Ternyata keberadaan Bandara Silangit kurang mampu mendukung kunjungan PDT di Parapat.

Tanpa dihadiri tiga menteri tersebut, akhirnya PDT dibuka oleh Plt Gubsu, Gatot Pujo Nugroho yang dihadiri Dirjen Nilai Budaya Seni Film (NBSF), Ukus Kuswara, bupati se-kawasan Danau Toba, Pangdam I BB, Kapoldasu, Ketua DPRDSU, forum komunikasi daerah sumut, Ketua Umum PDT 2011, Jhon Hugo Silalahi, Nurlisa Ginting (Sekum), Marasal H (Bendahara), Sophar Siburian dan sejumlah elemen masyarakat, tokoh agama, adat, pemuda dan seluruh lapisan masyarakat luas.

Diacara pembukaan, para PLT Gubsu dan para undangan dari konsulat jendral negara asing, perwakilan pemerintah pusat menyaksikan devile peserta yang mengenakan busana pakaian daerah. Diantaranya, kontingen Pemkab Simalungun, Pematang Siantar, Dairi, Humbahas, Samosir, Medan, Labuhan Batu, Badan Lingkungan Hidup Sumut, Akpar Medan, Garuda Fun Bike, Destimation Management Organization.

Pembukaan PDT 2011 di Open Stage Parapat, Selasa (27/12) disambut antusias seluruh pengunjung dan masyarakat luas di Parapat sekitarnya. Acara pembukaan dimulai dengan suguhan tari Dihar-dihar dan tor-tor Somba (Simalungun) sebagai simbol penyambutan tamu kehormatan. Selanjutnya, dilanjutkan dengan suguhan tari Sipitu Cawan yang dipersembahkan oleh Yayasan Pusuk Buhit.

Sebanyak 100 penari mewakili 7 Kabupaten, menampilkan Tarian Budaya Melayu, Budaya India, dan Budaya Chinesse, Tari Sombah, sebagai ucapan selamat dating kepada para tamu dan pengunjung PDT. Sementara Panitia mengkalim kunjungan wisatawan pada PDT itu mencapai 100 ribu jiwa.

Kurang Publikasi Kegiatan PDT

Kurangnya publikasi kegiatan PDT kepada masyarakat di pesisir Danau Toba dan sekitarnya seperti Kabupaten Dairi, Karo, Simalungun, membuat gaung PDT tidak dapat dinikmati masyarakat ekonomi lemah di pesisir keliling Danau Toba.

Sulitnya transportasi dari berbagai daerah ke Parapat tempat pelaksanaan PDT juga berdampak minimnya kunjungan ke PDT. Seperti transportasi darat dari Kabupaten Karo, Dairi, Simalungun, Siantar, Medan, Asahan, Batubara dan daerah Sumut laiannya tujuan Parapat sangat sulit.

Kunjungan PDT sebagian besar menggunakan kenderaan pribadi karena pengunjung PDT hanya kalangan berduit yang melawatkan malam tahun baru di Parapat. Bahkan para supir angkot tujuan Siantar-Parapat merasakan hal tersebut. Pendapatan supir angkot tidak signifikan saat pelaksanaan PDT.

Sepatutnya Panitia PDT memikirkan alat transportasi darat, danau dan udara dari berbagai daerah menuju Parapat. Panitia PDT bisa saja melibatkan kapal-kapal yang ada di Tomok Samosir dan Parapat atau pemilik kapal di pesisir Danau Toba lainnya sebagai angkutan murah bagi masyarakat pesisir Danau Toba di 7 kabupaten tujuan Parapat.

Angkutan transportasi umum (angkutan kota) tujuan Siantar-Parapat kurang nyaman bagi penumpang. Batakpos yang menumpang Angkot Sinar Siantar dari Simpang Dua Siantar tujuan Parapat 27 Desember 2011 nyaris jadi korban pemerasan tiga pria yang bersekongkol dengan kernet angkot dan supir.

Supir angkot dengan sengaja membuat laju kenderaan tersendat-sendat. Sehingga banyak penumpang yang minta turun ditengah jalan karena padatnya penumpang dan ributnya tiga pria diatas angkot tersebut.

Namun niat jahat tiga pria teman kernet dan opir tersebut yang hendak mengambil paksa tas penumpang termasuk tas Batakpos gagal karena adanya pos polisi di jalur lintas Siantar-Parapat tersebut. Akhirnya tiga pria dan kernet angkot turun dan balik arah pulang ke Siantar karena gagal hendak melakukan aksinya.

Armen Girsang (KM Lihardo), Kennedy Saragih (KM Dame), dua pemilik kapal motor di Desa Hutaimbaru, Kecamatan Pamatang Silimakuta Simalungun mengatakan, minimnya sosialisasi PDT membuat masyarakat minim kunjungan ke PDT.

Hal senada juga dikatakan Jonly Tondang, pemilik KM Muda Jaya, Desa Nagoripurba, Kecamatan Horisan Haranggaol, Simalungun. Tiga kapal besar desa bertetangga itu tidak menikmati perhelatan PDT. Ketiga kapal itu memilih obyek wisata Tongging, Haranggaol untuk mencari wisatawan yang ingin menikmati Panorama Danau Toba.

Kegiatan PDT 2011 meliputi Seni Budaya dengan Seminar Budaya, Festival Gondang, Festival Tari Daerah, Parade Gondang 72 jam – non stop, Ulos go to Fashion –1.000 orang memakai pakaian kreasi ulos, Lomba Suling, Tao Toba Star ( Lomba Vocal Group).

Kemudian olah raga dan festival / eksebisi perlombaan meliputi Solu Bolon, Jet Ski, Rally wisata, Paralayang, Jelajah Nusantara (Komunitas Sepeda), Marjalekkat, Margala, Marhonong, Solu Dakdanak, Solu Parsada sada, Pardua dua (Dewasa), Panjat Tebing, Marching Band, Catur.

Sebanyak 102 peserta ikuti panjat Tebing Alam Terbuka PDT 2011 di Perbuktian Potensi Wisata Minat Khusus di kawasan Danau Toba. Tebing-tebing di kawasan Danau Toba ternyata sangat menantang dan ideal sebagai wisata minat khusus dan juga untuk olahraga panjat tebing alam.

Buktinya, 102 peserta yang berasal Aceh, Padang, Bukit Tinggi, Binjai, Langkat, Medan dan Kabupaten se- Kawasan Danau Toba berusaha menaklukkan tebing alam 169 Sibaganding di Parapat, Selasa 27 Desember 2011 lalu.

Sedangkan untuk hiburan, Panitia PDT 2011 juga mendatangkan sejumlah artis ibu kota yang namanya sudah sangat popular dikancah belantika music, seperti penyanyi, Ayu Putri, Jack Marpaung, Viktor Hutabarat, Dakka Hutagalung, Wali Band, Maria Pasaribu, Trio Lamtama, Tio Fanta dan Tety Hutapea.

Kegiatan PDT bidang lingkungan hidup yakni Clean up Danau Toba, Penghijauan/Penanaman Pohon, Pembagian Tong Sampah, Danau Toba Award. Kegiatan lain –lain Lake Toba in Frame (Photography Danau Toba), Layang-layang, Festival Kuliner Tradisional, Parade Kapal Hias– 100 kapal hias dan gondang.

Rangkain kegiatan yang disuguhkan Panitia PDT, hanya dinikmati para peserta kontingen dan birokrasi yang terlibat didalamnya. Kemudian Panggung Hiburan Rakyat yang seluruhnya menampilkan artis ibukota hanya dinikmati sambilan oleh pengunjung kalangan berduit yang berkunjung ke Parapat.

Dua pesawat Jet Tempur milik TNI yang meraung-raung dan melintasi Danau Toba di PDT Parapat 2011 bisa menghibur pengunjung kaum pelosok desa yang jarang melihat pesawat jet tempur.

Sementara masyarakat pesisir Danau Toba yang haus hiburan, justru tidak mendapat perhatian Panitia PDT. Lebih ironis lagi Kabupaten Simalungun (Parapat) yang menjadi tuan rumah PDT dan Ketua Umumnya mantan Bupati Simalungun (Jhon Hugo Silalhi) tidak ada menampilkan Artis Daerah Simalungun sekelas Lamser Girsang, Jhon Eliaman saragih, Inta br Saragih.

Panitia seharusnya menonjolkan artis daerah di PDT 2011 karena pengunjungnya mayoritas kaum ibukota dan berduit yang pulang kampung. Kalau artis ibukota yang disuguhkan, sudah tidak asing lagi bagi kaum masyarakat ibukota yang pulang kampong.

Banyak tudingan miring kepada Ketua PDT karena tidak dapat menampilkan artis daerah, khususnya Artis Simalungun. Jadi banyak kesan PDT 2011 di Parapat hanya pesta seremoni kaum birokrasi yang tidak dapat mengangkat parawisata Danau Toba.

Semoga Bupati Simalungun, JR Saragih yang telah dinobatkan sebagai Ketua PDT 2012 tidak mengulang keprihatinan PDT 2011. JR Saragih harus merangkul seluruh elemen di 7 kabupaten pesisir Danau Toba agar sama-sama bertanggungjawab dan saling mengisi di PDT 2012. PDT 2012 juga harus bisa dinikmati masyarakat pesisir keliling Danau Toba dari ekonomi lemah sekalipun. Semoga. (Rosenman Manihuruk). (Tulisan Ini Telah dimuat di HU BATAKPOS Edisi Cetak Mulai Tanggal 18, 19, 20 Januari 2012).


BERIKUT FOTO-FOTO KEGIATAN PDT DI PARAPAT DAN FOTO LAINNYA

PARA DEWAN JURI LOMBA TARIAN DAERAH SUMUT DI OPEN STAGE PARAPAT 29 DES 2011. FOTO-FOTO ROSENMAN MANIHURUK.
FOTO-FOTO DILINDUNGI HAK CIPTA. HP 0812 7477587

Kerusakan Jalan Nagori, Jadi Perhatian Perantau Pulkam

Rusak Parah : Akibat jalan rusak parah di Desa Sipoldas menuju Nagoro Bangun Jawa-Gunung Mariah-Batu Duapuluh, warga terpaksa berjalan kaki guna menuju desa tersebut, Minggu 25 Desember 2011. Kondisi jalan rusak ini sudah hamper sepuluhtahunan tanpa adanya perbaikan. Foto batakpos/rosenman manihuruk.

Catatan Pinggir Infrastruktur Simalungun

Setiap akhir tahun, Sumatera Utara menjadi salah satu tujuan mudik (pulang kampong) warga perantauan, baik dari Pulau Jawa, Kalimantan, Batam dan begitu juga Jambi, Pekanbaru Riau. Mudik untuk merayakan Natal dan Tahun Baru di kampong halaman merupakan kebahagian tersendiri pagi perantau.

Demikian juga yang dirasakan warga perantauan asal Kabupaten Simalungun. Kel Sy RI Girsang/br Sidauruk misalnya. Mereka sengaja menggunakan mobil pribadi mudik ke Desa (Nagori) Gunung Mariah, Kecamatan Panei, Kabupaten Simalungun. Nagori itu hanya berjarah sekitar 10 kilometer dari jalan lintas provinsi Siantar-Kabanjahe.

Fasilitas jalan menuju Gunung Mariah yang bisa dijangkau dari Desa Sipoldas, Kecamatan Panei dan Nagori Batu Dua Puluh, Kecamatan Panei, cukup memprihatinkan. RI Girsang mengeluh saat tiba di Gunung Mariah, karena melewati kondisi jalan yang rusak parah, sehingga sulit untuk dilalui kenderaan.

“Saya merasa lebih capek menempuh jalan 15 KM ini, daripada bawa mobil dari Jambi ke Siantar. Jalan desa ini rusaknya bukan kepayang. Padahal akses jalan ke sini sudah terbuka sejak puluhan tahun, namun tidak ada perbaikan sama sekali. Warga Nagori Gunung Mariah, Batu Duapuluh, Bangun Jawa, Sipoldas harus bisa memperjuangkan perbaikan jalan ini,”kata RI Girsang di Nagori Gunung Mariah 26 Desember 2011 saat jumpa dengan BATAKPOS di Nagori tersebut.

Pengamatan BATAKPOS menunjukkan, Nagori Gunung Mariah, Batu Duapuluh, Bangun Jawa, Sipoldas merupakan produsen tanaman pangan seperti Padi, Jagung dan sayuran. Produksi padi, jagung dari empat Nagori itu setiap tahunnya cukup lumayan di Simalungun.

Bahkan Kecamatan Panei secara umum merupakan lahan pertanian padi sawah andalan di Kabupaten Simalungun. Namun akses jalan di empat nagori tersebut hingga kini masih memprihatinkan.
“Warga Nagori Gunung Mariah, Batu Duapuluh, Bangun Jawa, Sipoldas sudah sering meminta kepada kepala desa (Pangulu) masing-masing agar memberitahukan kondisi jalan tersebut kepada Pemkab Simalungun agar segera diperbaiki, namun hingga kini belum terealisasi,”kata B Purba Sidadolog, warga Nagori Gunung Mariah.

Menurut B Purba Sidadolog, akibat kondisi jalan ke desa mereka yang rusak parah, sehingga angkutan desa enggan masuk dan mengakibatkan para warga yang hendak menuju Siantar dan Raya harus berjalan kaki sejauh 10 KM.

Hal senada juga dikeluhkan Ramel Sinaga, warga Nagori Bangun Jawa. Menurutnya, kondisi jalan dari Bangun Jawa ke Nagori Gunung Mariah-Batu Duapuluh-Sipoldas kondisinya rusak parah hingga 10 tahun lebih.

“Padahal disepanjang jalur tersebut merupakan lahan pertanian padi, jagung, kopi dan coklat. Petani menjadi kesulitan dalam mengangkut hasil pertanian jika panen tiba. Warga mendesak agar Pemkab Simalungun segera memperbaiki kerusakan jalan desa tersebut,”katanya.

Desakan perbaikan jalan desa di Kecamatan Panei harus segera ditindak lanjuti PU Kabupaten Simalungun. Warga selama ini sudah terlampau sabar dengan kondisi kerusakan jalan, khususnya akses ke sentra-sentra pertanian. ruk

Sambut Imlek 2563, Umat Kristen Tionghoa Lakukan Ibadah Syukur

Pujian : Paduan Suara Koor Nafiri GKPJ saat membawakan puji-pujian pada Kebaktian Tahun Baru Imlek 2563 di GKPJ, Senin (23/1/12). Kebaktian tersebut dihadiri sekitar 300 umat Kristen Tionghoa di Jambi. Foto batakpos/rosenman manihuruk



Jambi, BATAKPOS

Dalam menyambut Tahun Baru Cina (IMLEK) 2563 yang jatuh (Tahun Baru Masehi) pada tanggal Senin 23 Januari 2012, umat Kristen Tionghoa di Jambi melakukan kebaktian ibadah syukur. Ibadah syukur itu dipusatkan di Gereja Kristen Protestan Jambi (GKPJ) di Jalan Dr Sutomo No 48-51 Pasar Kota Jambi, Senin (23/1/12) pagi.

Sekitar 300 umat Kristen Tionghoa di Jambi tampak dengan khususk dalam ibadah tersebut. Kebaktian syukur IMLEK itu dirangkai dalam 19 item diantaranya votum, nyayian bersama, doa pengakuan Iman Rasuli, kata sambutan Ketua Majelis Dkn Lukas Sim, pembacaan Alkitab, Paduan Suara Koor Nafiri, Khotbah oleh Ev yang Guo Bin, kolekte dan doa penutup.

Lagu pujian dan kotbah serta pembacaan Firman Tuhan pada kebaktian ibadah Imlek tersebut memakai bahasa Mandarin dan diterjemahkan oleh penerjemaah. Nuansa Etnis Tionghoa sangat terasa pada ibadah Imlek 2563 tersebut. Persembahan pujian juga dinaikkan oleh Paduan Suara Nafiri GKPJ serta Anak Sekolah Minggu.

Pengkotbah Ev Yang Guo Bin dengan penerjemah Dkn Frenki mengambil Nats Kotbahnya dari Injil Ezra 7 : 9, Keluaran 40 : 2,16,17 dan 2 Tawarih 2 : 17. Dari Ntas itu Ev Yang Guo Bin mengambil Tema Ibadah Tahun Baru Imlek 2563 yakni “Menyambut Yang Baru”.
Kotbah : Ev Yang Guo Bin (kiri) dengan penerjemah Dkn Frenki saat menyampaikan kotbah pada Kebaktian Tahun Baru Imlek 2563 di GKPJ, Senin (23/1/12). Tema Ibadah Tahun Baru Imlek 2563 yakni “Menyambut Yang Baru” sejalan Tema Imlek 2563 “Membangun Keluarga Allah,”.Foto batakpos/rosenman manihuruk

Ev Yang Guo Bin yang masih muda ini, mengajak umat Kristen Tionghoa untuk tetap bersandar kepada Tuhan serta meninggalkan dosa-dosa. “Agar Tahun Baru Imlek dimaknai dengan penyambutan kehidupan baru bersama Firman Tuhan serta dapat meninggalkan dosa-dosa yang mengelilingi kehidupan manusia selama ini. Imlek 2563 adalah tahun penuh ucapan syukur sejalan dengan Tema tahun 2012 yakni “Membangun Keluarga Allah,”katanya.

Tradisi Imlek bagi etnis Tionghoa juga dengan tradisi bersih-bersih rumah dengan membuang segala keburukan dan menyambut kehidupan baru. Melalui makna Imlek ini juga Umat Nasrani khususnya Etnis Tionghoa agar dapat melakukan introveksi diri atas dosa-dosa yang telah diperbuat, serta dapat membawa dosa-dosa tersebut kepada Tuhan agar diberikan pengampunan melalui doa-doa permohonan.

“Orang yang dapat berkat banyak, namun sedikit yang mensyukuri berkat tersebut. Manusia sering melupakan Tuhan karena ketamakan dalam diri manusia. Kita sering lupa mengucap syukur kepada Tuhan, orang yang demikian adalah orang yang iri hati dan penuh ketamakan. Melalui Imlek tahun ini, mari kita bersihkan diri dari ketamakan dan iri hati. Kita memulai hidup baru dengan pertolongan Tuhan,”kata Ev Yang Guo Bin.

Sikap Umat Kristen Tionghoa

Menurut Ketua Majelis GKPJ, Lukas Sim mengatakan, bahaya sinkretisme yang mendarah daging dalam etnis Tionghoa tidak mudah dihilangkan begitu saja sebab sekalipun seseorang menjadi Kristen.

Banyak yang masih menjalankan tradisi apa adanya, namun pertumbuhan iman berangsur-angsur membawa umat Kristen Tionghoa menjauhi praktek adat-istiadat tradisi budaya leluhur yang mendukakan Tuhan.

Disebutkan, di kalangan Tionghoa totok, tidak mudah meninggalkan tradisi turun-temurun kalau mereka menjadi kristen, namun di kalangan peranakan dan Tionghoa modern umumnya hal-hal yang berbau mistis-magis terutama penyembahan roh leluhur yang menjadi jantung budaya Tionghoa berangsur-angsur sudah tidak lagi mempengaruhi dirinya sekalipun mereka mengalami ketegangan dengan bagian keluarga besarnya yang masih kolot dan masih mempercayainya.

“Merayakan Imlek adalah netral seperti halnya merayakan Tahun Baru Masehi selama hari ini mengenang kondisi nenek-moyang yang dalam situasi agraris mernyambut bulan baru dan mulai siap bercocok tanam. Pertemuan kekeluargaan dimeja makan menjadi bagian perayaan Imlek atau Sincia yang baik juga diikuti,”katanya.

Pemberian hadiah antar anggota keluarga terutama kepada orang tua baik juga dilakukan hanya perlu ditekankan bahwa itu adalah ungkapan kasih dan syukur dan bukan wisit (benih rejeki) yang kita berikan kepada seseorang dengan Angpao, karena itu hadiah uang tidak perlu dibungkus dengan amplop warna merah dengan tulisan Fu/Hu karena itu berarti jimat.

Merayakan Imlek, bisa dilakukan umat Kristen Tionghoa selama unsur adat-istiadat tradisi budaya religi seperti penyembahan dewa-dewi dan roh nenek-moyang tidak kita lakukan, memasang lampion bisa saja dilakukan selama kita tidak terikat warna magis merah melainkan lampion aneka warna.

“Kita tidak perlu mengundang Barongsai masuk ke dalam rumah (apalagi ke dalam gereja) karena rumah umat Kristen (terlebih gereja) adalah rumah Roh Kudus maka dengan mendatangkan Barongsai pengusir roh, roh yang mana mengusir roh yang mana?,”ujar Lukas Sim.

Dikatakan, perintah Allah Umat Kristen tidak lagi terikat adat-istiadat nenek moyang yang mendukakan Tuhan, demikian juga maksud baik pertemuan keluarga dihari Sincia juga merupakan perintah Allah yang wajib dilakukan umat Kristen namun dilakukan dengan hormat dan kasih terutama kepada orang tua.

“Dengan demikian umat Kristen Tionghoa bisa ikut merayakan Sincia dengan misi kesaksian Injil bahwa sebagai umat tebusan Tuhan, umat kristen tidak lagi perlu percaya akan segala permainan roh dewa-dewi dan nenek-moyang yang tidak berdaya melainkan bergantung pada iman akan Allah pencipta langit dan bumi, dan Tuhan Yesus Kristus, juruselamat manusia,”katanya. RUK

Jelang Imlek, Umat Khonghucu Jambi Sembahyang Mengantar Dewa Ke Langit


Jambi, BATAKPOS


Menjelang Tahun Baru Imlek 2563 yang jatuh pada tanggal 23 Januari 2012, ada satu ritual yang wajib dilaksanakan umat Khonghucu. Mereka melakukan sembahyang mengantarkan Dewa ke langit. Biasanya ini digelar seminggu sebelum tahun baru Imlek atau tanggal 24 bulan 12 lunar kalender. Seluruh Dewa dan Dewi yang ada di bumi akan naik ke langit secara bersamaan.

Ritual Umat Khonghucu Jambi itu juga yang tampak di Kelenteng Siau San Teng yang terletak di Rt 10 Sungai Asem, Kampung Manggis, Kelurahan Cempaka Putih, Kota Jambi, Jumat (20/1/12). Setiap hari Kelenteng terbesar di Jambi itu didatangi Umat Khonghucu untuk melakukan ritual sembahyang mengantar Dewa ke langit.

Menurut Prayoga alias Apong (49), pengurus Kelenteng Siau San Teng kepada BATAKPOS mengatakan, sembahyang wajib sebagai ucapan syukur itu mulai dilaksanakan sejak tanggal 15 Januari lalu hingga Minggu (22/1) mendatang.

Persiapan Kelenteng Kelenteng Siau San Teng untuk menyambut upacara Imlek sudah tampak. Kelenteng Siu San Teng bahwa setiap tahun, tidak ada persiapan khusus yang dilakukan. Hal itu karena sembahyang hanya dilaksanakan seperti biasanya. Pengurus kelenteng berkumpul, menggelar sembahyang, berdoa sambil mengantarkan Dewa mereka menuju langit. Biasanya sembahyang yang dipimpin oleh rohaniawan tersebut berlangsung lebih kurang satu jam.

“Tata cara sembahyang tidak jauh berbeda. Hanya doanya yang berbeda. Umat akan datang, membawa sesaji lalu bersembahyang bersama-sama. Persiapan kita menyediakan alat sembahyang dengan jumlah yang cukup banyak terutama untuk kertas sembahyang dan garu,”kata Apong sembari menyiapkan beberapa peralatan sembahyang dibantu para pengurus lain.

Disebutkan, mengantarkan Dewa Dewi yang ada di bumi menuju langit merupakan hal penting. Mereka akan memberikan laporan tentang keadaan bumi kepada Dewa Langit. Semua hal yang terjadi selama satu tahun dibicarakan dan dibahas serta dicarikan jalan keluarnya.

“Makanya kita harus mengantarkan mereka dan bersembahyang sehingga laporan yang diberikan oleh para Dewa Dewi kepada Dewa Langit itu lebih banyak baiknya dibandingkan buruknya. Bahwa Dewa Dewi akan berada di langit selama 15 hari. Mereka akan membicarakan tentang masalah bumi kepada seluruh Dewa yang hadir terutama melaporkan semua hal kepada Dewa Langit yang merupakan Dewa tertinggi,”ujarnya.

Selain itu, Dewa Dewi juga akan membicarakan tentang kejadian yang akan terjadi pada satu tahun mendatang. Ini ditentukan berdasarkan pada kejadian dan tingkah laku manusia selama satu tahun.

“Jika masih banyak manusia yang jahat dan membandel, maka kita diperingatkan dengan berbagai hal seperti bencana atau kejadian lainnya. Dewa Dewi ini akan kembali turun ke bumi setelah perayaan Imlek. Tepatnya setelah Cap Go Meh yang merupakan hari ke 15 atau hari terakhir perayaan Imlek,”kata Apong.

Disebutkan, pada saat Dewa Dewi turun ke bumi, maka umat Konghucu juga akan menggelar sembahyang menyambut Dewa Dewi turun ke bumi. “Kita berharap agar kehidupan kita di masa yang akan datang akan menjadi lebih baik,” harapnya.

Alin, seorang umat Khonghucu yang tengah melakukan ritual bakar kertas sembahyang mengatakan, ritual tersebut sebagai ucapan syukur atas berkat selama setahun 2011 dan berharap berkat yang baik di tahun 2012.

Pengamatan BATAKPOS di Kelenteng Kelenteng Siau San Teng, Jumat (20/1/12) menunjukkan, para umat datang membaya sesajen berupa buah, kue serta dupa dan kertas sembahyang sebagai ucapan syukur. RUK

Berikut-foto-foto aktifitas Sembahyang di Kelenteng Kelenteng Siau San Teng Jambi, Jumat (20/1/12).Foto batakpos/rosenman manihuruk



Foto-foto Rosenman Manihuruk

Pemerintah Pusat Setujuai Revisi Perda Tonase Provinsi Jambi

Ir Bernhard Panjaitan MM

Jambi, BATAKPOS


Pemerintah Pusat menyetujui revisi Peraturan Daerah Nomor 8 Tahun 2009 tentang Kendaraan Angkutan Pertambangan dan Perkebunan Provinsi Jambi. Revisi Perda itu guna penegakan aturan terkait tonase akan bisa dilihat. Kenderaan bertonase lebih kerap melintasi di jalan sehingga menimbulkan reaksi dari masyarakat dan lembaga swadaya masyarakat (LSM).

Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Provinsi Jambi, Ir Bernhard Panjaitan MM, Jumat (20/1) mengatakan, Perda baru ini akan segera diterapkan di Provinsi Jambi. Dishub Provinsi Jambi, DPRD, Polres, DenPOM, dan Sekda Provinsi Jambi sudah melakukan rapat membahas penerapan Perda tersebut.

Menurutnya, dengan sudah disetujuinya revisi Perda nomor 8 tahun 2009 tersebut, nantinya akan dikenakan sanksi bagi kendaraan yang melanggar. Di samping pembongkaran muatan di tempat, kendaraan tersebut juga akan dikenakan denda.

“Terkait hal ini, Gubernur Jambi, H Hasan Basri Agus, sudah mengeluarkan surat keputusan pengawasan terpadu menyangkut angkutan berat. Untuk pengawasan di jembatan timbang, nanti akan dilibatkan aparat kepolisian dan DenPOM,”katanya.

Sedangkan untuk pengawasan terhadap Pungutan Liar (pungli) angkutan batu bara di jembatan timbang, akan dilakukan pengawasan pada 4 titik, yaitu pada jembatan timbang Sungaipenuh, jembatan timbang Sarolangun, jembatan timbang Muara Tembesi, Batanghari dan jembatan timbang Bukit Baling.

Bernhard Panjaitan mengakui jembatan timbang akan difasilitasi dengan kemera CCTV online. Namun untuk pelksanaan rencana itu belum bisa dilaksanakan pada 2012 ini. Alasannya lebih dikarenakan anggaran yang dibutuhkan mencapai sekitar Rp 1,1 miliar.

“Meski begitu, hal itu diakuinya akan diusulkan kepada DPRD dalam anggaran berikutnya. Selain itu, untuk mengatasi kelebihan tonase kendaraan yang melewati jalan, rencananya Dishub akan membangun tiga jembatan timbang yang baru. Tiga tempat baru itu ada di batas Sumatera Barat atau di Bungo, jalan lintas Muara Sabak atau di Tanjungjabung Timur dan Tempino. Saat ini, Dishub sudah membuat desain untuk tiga jembatan timbang tersebut,”katanya.

Sebelumnya Peraturan Daerah (Perda) Nomor 8 tahun 2009 tersebut dilakukan revisi ulang. Hal itu dilakukan karena ada pasal yang bertentangan dengan aturan yang lebih tinggi.

Sementara Komunitas Jambi Menggapai Keadilan (JMK) turun ke jalan melakukan aksi solidaritas bersama warga Jambi. Komunitas yang selalu konsen terhadap penindasan hak-hak dan nasib masyarakat ini, meminta dan mendesak pemerintah Jambi untuk cepat mencari solusi soal pembenahan jalur-jalur angkutan transportasi batu bara.

JMK pempertanyakan soal lambannya pemerintah menyelesaikan persoalan ini. Hingga, saat ini masih saja truk-truk pengangkut batu bara masih masuk jalan Kota Jambi. Sebagai aksi protes,komunitas JMK bersama warga menyetop semua truk pengangkut batu bara yang melintasi jalan simpang Tugu Juang Telanaipura Jambi.

Penghentian truk tersebut sebagai bentuk aksi protes. Para sopir, yang jumlahnya hampir ratusan tidak sedikitpun melakukan perlawanan, karena mereka juga sudah merasa gerah atas persoalan ini. Tanpa komando, mereka para sopir rela memarkir truk-truknya di badan jalan. Hingga kondisi jalur lalu lintas di kawasan Tugu Juang Jambi Jumat (19/1) dini hari tidak bisa dilalui kendaraan dari segala arah. RUK

Program E-KTP Kota Jambi Dipastikan April Selesai

Jambi, BATAKPOS

Program rekam Elektronik Kantu Tanda Penduduk (e-KTP) di Kota Jambi, ditargetkan selesai April 2012 ini. Program ini molor dari target Desember 2011 lalu karena ada kendala di lapangan sehingga program tersebut diperpanjang.

Asisten I Pemerintahan Setda Kota Jambi Yan Ismar, Jumat (20/1) mengatakan, program e-KTP ditargetkan selesai 100 persen April mendatang. Semua kecamatan di Kota Jambi masih molor dalam pelaksanaan rekam e-KTP tersebut.

“Kendala utama yang dihadapi adalah kekurangan alat untuk membuat E-KTP tersebut. Selama ini e-KTP gratis bagi warga dan tidak memberatkan. Namun setelah program gratis usai maka e-KTP akan dikenakan biaya. Besarnya biaya tergantung dari persetujuan DPRD,”katanya.

Menurut informasi yang beredar dilingkungan kantor kecamatan, setelah program gratis selesai, nantinya pembuatan e-KTP ini nilainya mencapai Rp 400 ribu. Penentuan nilai pembuatan e-KTP itu akan ditentukan oleh Perda. Namun jika melihat di pusat, biaya yang dikenakan sebesar Rp 400 ribu. RUK

Keberadaan Orang Rimba Terancam Akibat Alihfungsi Hutan

Direktur Komunitas Konservasi Indonesia (KKI) Warsi, Rakhmad Hidayat

Kesamaan Hak : Sekelompok Suku Anak Dalam (SAD) di Provinsi Jambi saat ikut dalam carnival budaya dalam rangka HUT Provinsi Jambi ke 55 ( 6 Januari 2012) di depan pusat perbelanjaan di Kota Jambi (8/1/12). SAD di Jambi kini menuntut kesamaan hak selaku warga negera. Foto batakpos/rosenman manihuruk.


Jambi, BATAKPOS

Alihfungsi hutan di Provinsi Jambi menjadi ancaman serius bagi kehidupan orang rimba atau biasa disebut suku anak dalam (SAD). Alihfungsi lahan yang membabi buta menjadikan ruang kehidupan orang rimba di Jambi semakin sempit. Kondisi ini menyebabkan konflik humanistik.

Demikian dikatakan Direktur Komunitas Konservasi Indonesia (KKI) Warsi, Rakhmad Hidayat, kepada wartawan di Jambi, Kamis (19/1). Menurutnya, alihfungsi kawasan hutan baik oleh perorangan maupun perusahaan di Jambi sudah terjadi sejak dua dekade terakhir.

Disebutkan, Warsi Jambi mencatat lebih dari 853.430 hektare kawasan hutan di Jambi beralihfungsi dan dikelola perusahaan melalui izin HTI maupun HPL. Jumlah itu belum ditambah alihfungsi oleh masyarakat untuk dijadikan perkebunan seperti sawit dan karet.

Selain menimbulkan degradasi hutan, kondisi ini juga sangat riskan menimbulkan konflik kemanusiaan. Khususnya bagi orang rimba Jambi. Orang rimba Jambi menempati beberapa daerah pedalaman kabupaten di Provinsi Jambi seperti Kabupaten Batanghari, Tebo, Sarolangun, sebagian Kabupaten Bungo dan Kerinci.

Menurut Rakhmad Hidayat, Warsi Jambi juga mencatat sedikitnya ada tiga kasus besar yang melibatkan orang rimba dan menyebabkan tiga orang rimba meninggal dunia dan selebihnya luka luka.

"Proses hukum terhadap orang rimba juga menjadi kredit tersendiri. Mengingat, kasus kasus pembunuhan maupun pengeroyokkan kepada orang rimba proses hukumnya tidak jelas. Dari kondisi itu, saya menilai konflik yang menimpa orang rimba di Jambi merupakan bentuk kegagalan negara dalam mengayomi warganya,”katanya.

Orang rimba, kata Hidayat, masih dianaktirikan dan dianggap sebagai warga kelas paling bawah sehingga tidak jarang dianggap sebagai "sampah" dan menjadi tidak masalah jika terjadi pengeroyokkan atau bahkan pembunuhan kepada orang rimba.

Terkait hal itu, Rakhmad sangat berharap pemerintah daerah baik Pemprov Jambi maupun pemerintah kabupaten dapat memberikan ruang penghidupan bagi orang rimba.

“Dengan adanya ruang khusus tersebut, orang rimba akan memiliki basis dan bisa memulai belajar hidup menetap. Yang penting perlakukan seperti warga lainnya, berikan pendampingan khusus bagi orang rimba. Kawasan ruang penghidupan bisa diambil dari kawasan atau lahan eks-HPH,”katanya. RUK

Orang Gila di Jambi Tahun 2012 Bebas Pasung



Jambi, BATAKPOS


Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jambi tahun 2012 menjamin tidak akan ada lagi orang terganggu jiwanya mengalami pemasungan. Hal ini karena pada tahun ini Rumah Sakit Jiwa Daerah Provinsi Jambi meluncurkan program bebas pasung. Target Pemprov Jambi tahun 2012 ini Jambi bebas pasung.

Direktur Rumah Sakit Jiwa Provinsi Jambi, Hernayawati, Kamis (19/1) mengatakan, tindakan memasung orang gila atau yang mengalami gangguan kejiwaan termasuk melanggar hak asasi manusia.

“Guna menunjang kesuksesan program ini, RSJ berharap bagi masyarakat yang memiliki dan mengetahui ada praktek pemasungan, diminta untuk memberikan informasi ke pihak rumah sakit jiwa. Nantinya, korban pemasungan akan dijemput dan dibawa ke rumah sakit jiwa,”katanya.

Bahkan, pada tahun 2011 lalu, pihak rumah sakit jiwa sudah menjemput lima orang korban pemasungan yang mengalami gangguan kejiwaan. Lima korban itu dijemput di Kabupaten Tebo setelah kami mendapatkan laporan dari masyarakat.

“Program ini sudah dimulai pada tahun 2011 lalu melalui dana APBD perubahan. Jadi pada tahun 2012 ini memang dicanangkan Jambi Bebas Pasung,” katanya.

Saat ini pihak rumah sakit jiwa juga sudah mengalokasikan dana khusus dalam program Jambi Bebas Pasung. Dengan demikian, korban pemasungan akan dirawat secara gratis. Sedangkan bagi orang yang mengalami gangguan kejiwaan namun dari keluarga tidak mampu, bisa menggunakan Jamkesmas, Jamkesprov maupun Jamkesda.

Sementara itu, untuk orang gila yang berada di jalanan menjadi tanggungjawab Dinas Sosial Provinsi Jambi. “Itu keinginan pak gubernur. Bahkan pada saat Hari Kesehatan Nasional, Dinas Sosial sudah menyerahkan beberapa orang yang mengalami gangguan kejiwaan yang berada di jalanan,” katanya.

Menurut Hernayawati, ke depan tidak ada lagi alasan melakukan pemasungan terhadap orang gila. Perbuatan pasung itu selain melanggar hak asasi, juga memperburuk kesehatan penderita gangguan jiwa.

Bahkan beberapa korban pemasungan yang dijemput pihak rumah sakit jiwa ada yang hampir mengalami kelumpuhan. Pihak RSJ mengharapkan kerjasama seluruh pihak. “Bila ada orang yang dipasung, berikan informasi kepada kami maka akan kami jemput. Atau bisa juga diantar langsung ke pada kami di rumah sakit jiwa,”katanya. RUK